Arsip Blog
Kategori Produk
Our Suports

  082 133 636261
  082 133 636261
  Kedai Rohani


Anda pengunjung kami ke 247405.
Saat ini sedang ada 3 pengunjung online dari total 69 pengunjung hari ini. (hits 630/ 1168835 )



Anda sedang berada di: Blog
Blog Kedairohani.com
Hukuman Sebagai Sarana Pendidikan
Diposting oleh : Antonius Handoko Kategori: Renungan & Motivasi - Dibaca: 1047 kali Senin, 20 April 2015 - 19:04:58 WIB

Salah satu kegiatan menarik saat malam adalah menonton televise baik itu menonton berita, film ataupun sinetron. Saya biasanya saat malam menonton film Mahabarata dan juga Krisna, film ini menarik bagi saya karena ada kaitan erat dengan lakon-lakon wayang Jawa.


Suatu malam saya teruskan menonton juga film Jodha Akbar, saya sendiri tidak biasa menonton film ini, biasanya setelah serial Mahabarata saya tidak menonton film lagi. Saya tertarik pada salah satu episode dimana Pangeran Salim anak dari Raja Jalaludin melakukan suatu kesalahan. Seorang perempuan tua melapor kepada raja Jalaludin berkaitan dengan perilaku anaknya tersebut. Raja Jalaludin mencari tahu dari para penasihatnya tentang kebenaran dari laporan itu dan ia mendapati bahwa laporan itu benar adanya. Raja Jalaludin marah kepada anaknya dan demi keadilan di kerajaannya ia kemudian menjatuhkan hukuman kepada anaknya tersebut.
Raja Jalaludin menjatuhkan hukuman itu demi keadilan dan juga demi pendidikan anaknya. Ia ingin menanamkan bahwa sebagai seorang putra mahkota, Pangeran Salim tidak boleh berlaku semena-mena. Pangeran Salim tidak kebal hukum sekalipun ia adalah putra mahkota. Hukuman ini dijatuhkan bukan atas dasar kebencian namun atas dasar cinta yang mendalam. Hukuman yang diharapkan oleh Raja Jalaludin sebagai bentuk “edukasi” kepada anaknya tersebut. Anaknya diharapkan memiliki disiplin yang baik dan perilaku yang baik karena ia kelak menjadi raja yang harus bisa menjadi panutan.


Hukuman yang diberikan ini sebagai sarana “edukasi” (pendidikan) kepada anaknya dengan harapan bahwa anaknya tersebut bisa mengerti kesalahannya dan kemudian mengubah perilaku negatifnya. Raja Jalaludin memberikan hukuman ini dengan dasar cinta kasih kepada anaknya dan bukan atas kebencian. Ia sendiri merasakan kepedihan yang mendalam atas hukuman yang diberikan kepada anaknya tersebut namun ia sadar bahwa hukuman harus diberikan demi kebaikan anaknya.


Kisah ini dapat dibandingkan dengan film Mahabarata yang ditayangkan tahun 2014 lalu. Saat Duryudana putra dari Raja Destrarata melakukan pelanggaran hukum. Ia berkonspirasi dengan saudara-saudaranya serta pamannya untuk membunuh Bima dengan cara diracun. Ayahnya tahu bahwa anaknya tersebut bersalah namun karena ia sangat mencintai anaknya maka ia tidak menghukum putranya yang bersalah. Hal itu mengakibatkan Duryudana tidak bisa belajar dari kesalahan, ia juga tidak menyadari bahwa perilakunya itu adalah salah. Duryudana tidak mau mengubah perilakunya yang buruk dan perilaku buruk ini terus berkembang dan semakin kuat tertanam dalam dirinya. Perilaku buruk menjadi kebiasaannya.


Hukuman memang merupakan langkah terakhir yang bisa ditempuh dalam rangka pendidikan, nasihat dan teguran bisa dilakukan terlebih dahulu. Hukuman akan bersifat positif apabila dalam pelaksanaannya dilakukan demi tujuan kebaikan dan dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan bijaksana.

  1. Hukuman berguna untuk memperbaiki individu agar menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi.
  2. Hukuman berguna untuk melindungi pelakunya agar dia tidak melanjutkan pola tingkah laku yang menyimpang.
  3. Hukuman juga berguna untuk melindungi masyarakat luar dari perbuatan-.perbuatan salah seperti: asusila, kriminal dan abnormal yang dilakukan oleh anak ataupun orang dewasa

Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat. (Amsal 5:23)





Baca juga artikel berikut:

  Facebook  
  Tidak Login Facebook (18)  
  082 133 636261
  523F7CC3
  082 133 636261